AGAR ANAK LEBIH MANDIRI

Setiap orang sesungguhnya memiliki potensi diri. Potensi itulah yang dimunculkan dalam Pengembangan Potensi Diri (P2D) SDIT Insan Kamil Sidoarjo yang diikuti seluruh siwa kelas 5. Program tersebut rutin dilakukan SDIT Insan Kamil Sidoarjo setiap tahunnya. Tahun ini, P2D dilakukan di Claket-Pacet selama 3 hari dengan kegiatan yang lebih menantang (4-6/2/2016).

Sebelum berangkat, para siswa diberikan pengarahan terlebih dahulu. Pengarahan tersebut bertujuan untuk menyiapkan siswa agar bisa mengikuti semua kegiatan dengan baik. Hal ini penting karena tanpa rencana dan persiapan yang matang, kegiatan tidak berjalan dengan baik. Karena itu, para siswa telah mengumpulkan alat dan perlengkapan mereka di sekolah satu hari sebelumnya. Mulai dari perlengkapan pribadi hingga kelompok, semua sudah disiapkan. Sultan Rafly, siswa kelas 5-B mengaku bahwa ini adalah pengalaman pertamanya. Dia berharap bisa mandiri dan menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam sambutannya, Ustaz M. Choirul Annam selaku Kepala Sekolah SDIT Insan Kamil Sidoarjo, mengatakan jika P2D merupakan program unggulan sekolahnya. Ustaz Choirul menyatakan programnya telah terbukti hingga kini berhasil mencetak pribadi yang tangguh dan mandiri. Untuk sukses, siswa harus disiapkan sedini mungkin dan kemandirian merupakan modal penting bagi seseorang untuk siap menghadapi masa depan.

Di manapun, kapanpun, kemandirian wajib ada dalam setiap orang. Selama ini, potensi tersebut masih belum nampak tetapi dengan P2D, potensi semacam itu diberi ruang lebar agar bisa muncul. Lantas, bagaimana P2D bisa munculkan potensi tersebut? Dalam P2D, para siswa dilatih menyiapkan segala kebutuhannya sendiri tanpa mengesampingkan kerjasama. Mulai pelatihan baris berbaris (PBB), mendirikan tenda, memasak, hingga penjelajahan alam, semua itu dilakukan siswa. Dipandu oleh ustaz dan ustazahnya, serta tim kepanduan, para siswa mengikuti semua kegiatan dengan baik.

Ustaz Fajar R. Hidayat, ketua pelaksana acara menambahkan, “P2D terbukti berhasil mengubah sikap anak menjadi lebih baik.” Tahun sebelumnya, salah seorang wali murid bahkan mengaku terkejut dengan perubahan baik yang terjadi pada anaknya. Tidak hanya mandiri, sikap berani dan percaya diri pun muncul setelah mengikuti P2D. Awalnya, anak tersebut tidak berani ke kamar mandi sendiri bahkan ketika siang. Setelah mengikuti P2D, ketakutan tersebut tidak lagi muncul.

Dimuat di Rubrik Citizen Reporter Harian Surya, 12 Februari 2016

 

 

 

APLIKASI NEUROSAINS DALAM PENDIDIKAN ANAK

Neurosains dibutuhkan dalam pendidikan anak. Seperti yang disampaikan Sumarti M. Thahir, pakar neurosains terapan, pada seminar parenting SDIT Insan Kamil Sidoarjo, Indonesia siap menuju generasi emas 2045. Lebih lanjut Sumarti menjelaskan, Indonesia memiliki tantangan untuk mewujudkan hal tersebut (30/1).

Untuk menyiapkan generasi emas, adapun persoalan berkait sumber daya manusia yang harus ditangani, antara lain kenakalan remaja, penyimpangan perilaku, korupsi, anti-sosial, ekstrimitas, dan penyimpangan teknologi. Dengan berbagai persoalan dan target seperti itu bukan tidak mungkin Indonesia siap menuju generasi emas 2045. Namun, perlu dilakukan terobosan dalam dunia pendidikan yang berbasis neurosains.

Neurosains berasal dari dua kata, yaitu neuron dan sains. Neuron artinya sel saraf otak, sedangkan sains berarti ilmu. Neurosains merupakan bidang keilmuan yang mempelajari sistem saraf, terutama mempelajari neuron atau sel saraf, dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Tujuannya, untuk mempelajari dasar-dasar biologi yang terjadi dalam otak (sel saraf) dari setiap pikiran dan perilaku yang dilakukan. Karena itu, neurosains sangat membantu dalam mengatasi permasalahan yang sering terjadi pada anak.

Di Indonesia, bidang neurosains masih tergolong baru. Akan tetapi, ilmu terapannya sangat bermanfaat bagi pendidikan dan pola asuh anak. Seperti yang dikatakan Sumarti, dari neurosains dapat diidentifikasi kesulitan belajar dan perkembangan kecerdasannya. Hal tersebut sangat sesuai karena perilaku manusia dikendalikan oleh satu organ yang amat sangat penting, yaitu otak dan dalam neurosains dibahas tentang itu.

Hal menarik lainnya dari neurosains, anak bisa diprogram agar siap belajar bahkan dimulai sebelum lahir. Kematangan berpikir anak pun bisa disiapkan lebih awal. Dimulai dari proses penciptaan manusia. Manusia akan mengalami empat alam, antara lain dalam kandungan, dunia, alam kubur, dan akhirat. Dari Keempatnya hanya disiapkan di dunia. Ketika anak masih dalam kandungan, terutama saat 3 bulan pertama masa kehamilan, anak harus disiapkan dengan baik. Pada masa 3 bulan pertama kehamilan telah terjadi proses pembentukan memori. Untuk menunjangnya, nutrisi yang baik dan spiritual yang matang dari orang tua perlu diberikan pada calon bayi. Kesiapan itu dilanjutkan hingga proses persalinan. Berdasarkan penelitian, bayi yang lahir normal dan caesar sangat berbeda kemampuannya di masa mendatang. Bayi yang lahir normal cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik karena mendapat stimulus lebih baik ketika lahir. Bayi yang lahir normal memiliki daya juang karena dia berusaha mendorong dirinya untuk keluar.

KABUT

Adakah kau ingat

saat dimana kabut begitu nyata?

Kau ingin menghapusnya namun tak bisa

Kemudian turun hujan

dan kau tetap mengingkarinya

Sungguh,

terlalu bila kau tetap berpaling muka

Sedang wajahmu terus melihat langit

tanpa mencoba berpijak di tanah

Apa yang bisa kukatakan bila jiwa tak lagi tinggal dalam raga?

 

Oktober 2015

 

Dibukukan dalam antologi puisi negeri kertas “MELAWAN KABUT ASAP”

 

MENGHIDUPKAN SEMANGAT BACA ANAK

IMG_20151124_070039[1]Angka mengejutkan terlihat dari hasil survei yang dilakukan Programmme for International Student Assessment (PISA) di bawah Organization Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2012. Lembaga yang melakukan pemetaan kemampuan matematika, membaca, dan sains tersebut mendapatkan angka bahwa Indonesia berada pada peringkat terbawah dari 65 negara di dunia untuk minat membaca.

Di tahun 2012, UNESCO juga menunjukkan fakta yang mengejutkan. Berdasarkan data yang dirilis UNESCO, Indonesia memiliki indeks membaca 0,001. Itu artinya dari 1000 jumlah orang di Indonesia, hanya ada 1 orang yang memiliki kemauan untuk membaca. Hasil studi dan survei tersebut masih belum ditambah dengan hasil studi lain seperti Human Development Index (HDI) dan Trends in International Mathematic and Science Study (TIMSS) yang secara tidak langsung juga dapat mendukung temuan mengenai rendahnya tingkat literasi dan minat membaca di Indonesia. Sungguh menyayangkan memang apalagi mengetahui jumlah penduduk Indonesia yang jumlahnya tidak dapat dikatakan sedikit dibanding jumlah penduduk di negara lain.

Tahun berikutnya, sebuah lembaga bernama United State Agency for International Development (USAID) melakukan survei yang bermitra dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sejak Oktober 2013 sampai Juli 2014. Mereka melakukan penilaian membaca kelas awal atau Early Grade Reading Assessment (EGRA) di Indonesia. Survei nasional dilakukan terhadap 4.800 muri kelas 2 Sekolah Dasar (SD) di 400 SD dan Madrasah Ibdtidaiyah (MI) di 80 kabupaten di Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah Indonesia bagian timur. Hasilnya di luar dugaan. Sekitar 48 persen, anak dinyatakan bisa membaca lancar dan mampu memahami bacaannya. Hal tersebut menjadi kabar gembira bagi para anak di Indonesia.

Meskipun fakta minat membaca masih sangat rendah tetapi kemampuan pemahaman anak Indonesia sudah dapat dikatakan baik. Dengan fakta tersebut apakah bangsa Indonesia bisa maju? Hal inilah yang menjadi tantangan bagi para generasi penerus bangsa karena temuan tentang kemampuan awal anak membaca bisa menjadi potensi untuk menghidupkan kembali budaya membaca anak Indonesia.

Perlu disadari, membaca bukanlah sekadar kegiatan mengeja huruf atau kata-kata. Kegiatan membaca merupakan kegiatan yang melibatkan proses berpikir dan pemahaman terhadap sesuatu. Dengan membaca, seharusnya seseorang tidak hanya bertambah kosakata tetapi juga pemahaman yang lebih baik terhadap suatu hal. Atas dasar itulah perlu ada tindak lanjut. Seperti yang dikatakan Larry Dolan, Deputi Education Office Director USAID yang mengatakan bahwa perlu tindakan konkret pemerintah menanggapi temuan EGRA USAID. Tentu saja perlu dukungan masyarakat agar membaca dapat dibiasakan, baik di kalangan anak dan orang dewasa. Lebih khusus, bagi para guru di sekolah.

Guru Harus Berperan

Sekolah menjadi tempat yang tepat untuk menumbuhkan semangat membaca. Terdapat aturan dan berbagai sarana pendukung guna berkembangnya semangat baca anak. Lantas, bagaimana budaya baca bisa berkembang baik di sekolah? Inilah saatnya membuktikan peran guru untuk kemajuan anak didiknya dan bangsa.

Ada sebuah hal sederhana yang dapat dilakukan guru untuk membudayakan            anak supaya terbiasa membaca. Anak dibiasakan mendengar cerita yang dibacakan guru. Hal ini berlaku mulai dari kelas 1 SD hingga kelas paling tinggi. Dari sinilah budaya literasi, khususnya membaca mulai dibiasakan. Perubahan dan tujuan dimulai dengan kegiatan cerita atau dikenal dengan mendongeng.

Sepintas, ini biasa dilakukan semua orang. Namun bagaimana korelasinya dengan literasi? Jawabannya, tentu saja ada karena bercerita juga merupakan bagian dari literasi. Namun, perlu strategi dan tujuan seseorang bercerita. Hal tersebut dimaksudkan agar kegiatan bercerita menjadi lebih bermakna.

Hal tersebut sesuai dengan tahapan perkembangan keterampilan berbahasa anak. Untuk dapat mengerti dan belajar mengolah bahasa, seorang anak haruslah mengalami proses mendengar. Dengan mendengar, seorang anak telah belajar mencerna menggunakan daya pikirnya dan menambah kosakata mereka.

Cerita yang diceritakan untuk anak dimulai dari sesuatu yang ada di sekitar. Bisa berupa pengalaman pribadi guru atau pengalaman orang lain yang berkesan. Selanjutnya, kegiatan bercerita lebih diarahkan pada tujuan awal, yaitu menarik keingintahuan anak terhadap hal tertentu. Guru bercerita dengan antusias dan semenarik mungkin hingga mengarah pada sebuah buku tertentu. Inilah proses menghidupkan semangat anak untuk mau membaca. Minimal membuat anak mau membuka buku atau membaca judulnya saja merupakan langkah positif untuk menghidupkan semangat membaca anak. Jika sudah muncul semangat baca akan lebih mudah mengarahkannya untuk gemar membaca.

Perlu Sarana Pendukung

Lantas, bagaimana kelanjutannya? Mari kita tengok fasilitas atau sarana yang harus ada di sekolah. Sudahkah sekolah dilengkapi perpustakaan? Perpustakaan merupakan jantungnya sekolah. Ibarat manusia, jantung merupakan organ penting yang bertugas memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Tanpa jantung, apa jadinya manusia? Sama halnya dengan itu, tanpa perpustakaan, bagimana jadinya siswa?

Di perpustakaan, seorang anak dapat menemukan segala jenis buku. Perpustakaaan yang baik akan menyediakan buku menarik dan sesuai dengan karakter anak. Untuk kelas bawah misalnya, lebih banyak buku yang berisi gambar-gambar menarik. Sebaliknya, untuk kelas sedang sampai atas disediakan buku pengetahuan berkait tingkatan berpikir anak. Jenis buku lainnya yang harus disediakan adalah kamus, ensiklopedia, dan sebagainya. Selain itu, supaya lebih menunjang maka disediakan buku-buku yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajari anak.

Untuk mendukung itu, setiap pagi sebelum pembelajaran harus disediakan waktu khusus bagi anak-anak untuk melakukan aktivitas membaca. Di sekolah kami misalnya di SDIT Insan Kamil Sidoarjo, disediakan waktu khusus yang kami sebut moorning activity (aktivitas pagi) setiap harinya.   Tak perlu waktu banyak, cukup 20 menit saja karena bukan lamanya waktu tetapi konsistensi waktulah yang penting. Pada saat itu, anak-anak bebas melakukan aktivitas apapun dengan agenda utamanya adalah membaca. Jenis buku yang dibaca bervariasi. Anak-anak boleh membaca buku pengetahuan, cerita, hingga tilawah Al-Quran. Anak-anak dapat menemukan buku semacam itu di perpustakaan mini kelas. Setiap kelas memiliki perpustakaan pribadi. Jadi tidak hanya perpustakaan utama di sekolah saja yang harus ada, perpustakaan pribadi juga harus disediakan di kelas masing-masing.

Dengan cara seperti itulah, seorang anak akan terbiasa membaca. Kegiatan membaca yang selama ini menjadi sleeping giant akan hidup selangkah demi selangkah dan berkembang menjadi semangat membaca anak. Jika hal tersebut sudah terjadi akan ada korelasi antara membaca dengan pemahaman mata pelajaran tertentu di kelas.

Penting sekali menghidupkan semangat membaca tetapi lebih penting menyediakan waktu khusus bagi siswa untuk membaca. Hal tersebut tentu harus didukung dengan sarana atau fasilitas yang memadai dengan menghadirkan perpustakaan pribadi di setiap kelas. Kegiatan bercerita bisa menjadi awal untuk menghidupkan semangat baca anak.

 

*Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Alumnus Universitas Negeri Surabaya.

Dimuat di Harian Duta Masyarakat 14 Desember 2015

 

MENCICIPI BAKSO KHAS “CAK TO” SIDOARJO

Sidoarjo, salah satu kabupaten di Jawa Timur yang menyimpan berbagai pesona kuliner. Bila berkunjung ke kota udang ini, jangan melewatkan kesempatan untuk mencicipi kuliner khasnya. Salah satunya adalah tempat makan bakso yang terletak di Jalan Pahlawan No. 1, Sidoarjo.

Yang menarik, untuk menikmati bakso, pengunjung bisa langsung mengambil sendiri berbagai olahan bakso yang tersedia. Jadi model penyajiannya ala prasmanan. Hal tersebut sangat berbeda dengan tempat makan bakso lainnya. Jadi tidak perlu khawatir bagi pengunjung yang menginginkan porsi sedikit. Makannya bisa sesuai kebutuhan dan isi kantong.

Menu bakso yang ditawarkan pun beragam. Mulai dari bakso isi telur puyuh, bakso granat, bakso isi keju, bakso mercon, dan bakso seafood yang tentunya halal. Dengan harga mulai Rp 2000, pengunjung bisa memilih sendiri menu bakso yang ditawarkan. Hal ini cocok bagi para pecinta kuliner atau pengunjung backpacker.

Selain menu baksonya, usaha bakso yang diawali pemiliknya pada tahun 2004 tersebut juga menawarkan berbagai menu khas Jawa Timur yang tak kalah nikmat. Mulai iga sapi penyet, lontong kupang, bakwan penyet, mie ayam, ayam goreng, bebek goreng, siomay bakso, empal suwir, dan aneka minuman tradisional yang juga nikmat dan segar.

Hal menarik lainnya adalah bangunan Bakso Kuto “Cak To” sendiri. Bangunannya sengaja dibangun berbentuk joglo yang merupakan bangunan khas Jawa. Bangunan tersebut dilengkapi dengan perabot kursi dan meja yang terbuat dari pohon jati. Di dinding tempat makan pun terpasang gambar tukang bakso berisi semboyan Cak To, “Berjuang Pantang Berputus Asa”. Semboyan itulah yang dipakai Cak To untuk mendirikan tempat makan bakso hingga sukses sampai saat ini.

Selain itu, para pengunjung bisa merasakan bakso sembari menikmati pemandangan jalan raya yang tak pernah sepi dilalui kendaraan. Untuk dapat menikmati bakso dengan suasana khas kota, pengunjung dapat datang setiap hari pada pukul 10.00 – 21.30.

 

*Pengajar di SDIT Insan Kamil-Sidoarjo. Alumnus Universitas Negeri Surabaya, Prodi Sastra Indonesia.

SEKOLAH SEBAGAI PELOPOR GERAKAN LITERASI

Menjadikan sekolah sebagai pelopor gerakan literasi merupakan pilihan yang tepat. Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu menampung aspirasi dan ide-ide kreatif siswa, guru serta seluruh komponen di dalamnya. Apalagi jika hal tersebut disinergikan dengan proses belajar-mengajar, akan membuat proses tersebut menjadi lebih hidup dan bermakna.

Idealnya, sebuah sekolah merencanakan program-program sekolah yang menunjang kemampuan dan bakat seluruh warga di dalamnya. Dalam hal ini baik guru dan murid wajib membudayakan literasi. Caranya, sekolah mewajibkan budaya membaca dan menulis bagi para guru dan siswa.

Seorang guru paling tidak dapat menerbitkan sebuah buku, entah dalam hitungan per tahun atau bulan. Mereka wajib membuatnya. Guru sebagai teladan bagi muridnya. Jika hal tersebut sudah terealisasi, takkan sulit untuk membuat siswa mengikuti jejak gurunya.

Dengan realitas seperti itu membuktikan sekolah menyadari peran, tantangan, dan peluang di masa depan. Sekolah berperan besar untuk melahirkan para penerus bangsa. Keterampilan dalam menulis dan kegiatan membaca sangat menunjang kemampuan mereka untuk menjawab tantangan dan menciptakan peluang di masa depan.

Lebih teknis, guru dapat membukukan dan membuat catatan tentang kegiatan pembelajaran di kelas. Guru juga dapat membuat proyek untuk dirinya sendiri, khususnya literasi. Literasi ini bisa dimulai dengan membuat catatan harian tentang anak didiknya. Hal tersebut juga akan memudahkan guru memberikan penilaian dan mengetahui perkembangan anak dari waktu ke waktu. Alangkah bangga dan bahagianya orang tua ketika mereka dapat mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. Hal tersebut juga membuktikan bahwa seorang guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi menggantikan peran orang tua di sekolah.

Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan guru, siswa dihimbau untuk membudayakan literasi. Membaca menjadi hal yang penting dalam hal ini. Setidaknya ada program khusus untuk mewujudkannya, seperti membaca buku setiap hari. Realisasinya dilakukan bertahap. Siswa bisa membaca 1 lembar 1 hari atau memberikan kesempatan di pagi hari untuk membaca buku pribadinya selama lebih kurang 10-15 menit. Hal tersebut efektif sebagai bagian dari gerakan literasi sekolah.

Selebihnya, hal tersebut harus didukung berbagai pihak. Melibatkan dinas pendidikan setempat, ketua lembaga pendidikan, kepala sekolah, dan semua penyelenggara pendidikan menjadi sesuatu kewajiban. Apalagi ini untuk kemajuan dunia pendidikan. Sebagai contoh, kita bisa melihat peran serta pemerintah kota Surabaya yang mendukung penuh gerakan literasi dan hal ini dimulai di sekolah-sekolah, baik sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Itu dibuktikan Pemkot Surabaya dimana Walikota Tri Rismaharini mengikrarkan gerakan literasi saat perayaan hari pendidikan nasional tahun 2014 kemarin. Pemerintah sadar jika gerakan literasi memiliki andil besar memajukan bangsa dan negaranya. Hal tersebut terlihat di negara-negara maju, seperti Jepang, Finlandia, dan Inggris. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan gerakan literasi. Sekolah menjadi pelopor gerakan tersebut.

Pentingnya Mengenali Karakter Anak Dalam Belajar

Penting bagi para guru mengenali karakter anak. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Seorang guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai psikolog. Minimal, seorang guru dapat mengenali karakter anak dari kebiasaan sehari-hari di sekolah. Hal tersebut akan sangat membantu guru dalam melakukan proses pembelajaran dengan baik bersama anak didiknya.

Perbedaan karakter akan berpengaruh pada gaya belajar anak. Neil Fleming, guru dari New Zealand menyebut gaya belajar dengan learning style. Menurutnya, ada 4 gaya belajar anak, antara lain aural, read/write, visual, dan kinestetik. Gaya belajar aural dulunya disebut auditori. Anak dengan gaya belajar tersebut akan cenderung memahami sesuatu lewat hal yang didengar, sedangkan anak dengan gaya belajar visual akan memahami sesuatu lewat hal yang dilihat. Berbeda dengan itu, anak dengan gaya belajar read/write akan memahami sesuatu lewat proses membaca dan menulis, sedangkan anak dengan gaya belajar kinestetik akan memahami sesuatu setelah mencoba melakukannya sendiri.

Fleming menemukan bahwa 41% orang memiliki salah satu gaya belajar di atas secara dominan, artinya ada yang hanya visual saja, aural saja, read/write saja, atau kinestetik saja. Sekitar 27% memiliki dua gaya belajar sekaligus, misalnya visual dan kinestetik. Ada 9% yang memiliki sekaligus 3 gaya belajar dominan, misalnya visual, aural, dan read/write. Sekitar 20% sisanya memiliki sekaligus keempat gaya belajar yang telah disebutkan, sehingga mudah baginya untuk memahami segala informasi dan pelajaran lewat gaya apapun.

Anak-anak yang memiliki 3-4 gaya belajar sekaligus biasanya dianggap sebagai anak yang pintar. Apapun yang dilakukan para guru maupun orang tua untuk mengajarinya akan segera ditangkap. Sebaliknya anak yang memiliki hanya 1 atau 2 gaya belajar saja, ketika gaya belajarnya berbeda dari orang tua dan guru yang mengajarinya sering jadi masalah. Entah itu sulit menangkap pelajaran, sulit mengingat apa yang sudah dipelajari, sulit berkonsentrasi, dan sering menghasilkan nilai yang pas-pasan saja.

Persoalannya, dari temuan Fleming, hampir 70% orang memiliki hanya 1—2 gaya belajar yang dominan. Kalau guru tidak mengenali gaya belajar anak yang dominan, sangat mungkin kesulitan mengajari anak. Anak jadi membenci proses belajar. Jadi, penting bagi guru untuk mengenali karakter anak lewat gaya belajarnya.

Sebagai guru tentu harus berani mengambil langkah untuk dapat mengoptimalkan cara belajar anak. Seorang guru harus mengetahui cara agar para anak yang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda itu dapat menyesuaikan dengan yang lain. Hal tersebut dibarengi dengan mengombinasikan metode belajar anak.

Satu langkah penting yang perlu dilakukan seorang guru adalah menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menarik bagi anak didiknya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan memberlakukan semacam kesepatan yang nantinya menjadi aturan yang harus dipahami dan dilakukan anak. Aturan ini dibarengi dengan pemberian reward sebagai bentuk apresiasi dan sebagai konsekuensi logis atas pelanggaran yang dilakukan anak. Selain itu, libatkan anak-anak dalam aktivitas belajar secara aktif dan intens.

Senandung (dalam) Gerimis Sore

Aku menantikanmu

dalam gerimis sore itu

membawakan segenggam cerita

penuh kehangatan dan ungkapan yang selalu ingin kudengar

Terkadang, aku merasa dunia hanya milik para dewa

gerimis pun memaksa kita bicara

tak sekadar berpandang mata

dua hati kini saling berbicara

dalam balutan hawa dingin

mendorong kata segera bertemu tuannya

Kau mungkin tak menyadarinya

namun aku tahu pasti

dari mata senja yang berbinar

Aku melihat untaian demi untaian rasa

gerimis yang mengundang kata

Aku hidup di dalamnya.

Daya Tarik Film Korea

The Heirs, Love Rain, Full House, dan Princess Hour merupakan deretan film drama Korea. Film tersebut memiliki kisah romansa yang menarik dan tidak membosankan. Film Korea memang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, adakah yang pernah berpikir untuk mempelajari film tersebut?

Saat ini film-film Korea laris manis di pasaran. Tak hanya di Korea, film drama Korea berhasil mengambil hati masyarakat Indonesia, terutama para remaja. Dibanding film Asia lainnya seperti China, Taiwan, dan Jepang, film drama Korea lebih disukai. Nampaknya, kisah percintaan yang dibuat para cineas Korea begitu menarik sehingga banyak diminati. Tak heran bila film Korea menyimpan magnet bagi penontonnya.

Kebanyakan orang akan setuju jika drama Korea memiliki kisah percintaan yang menarik. Kisah dua orang yang saling jatuh cinta tetapi terdapat tragedi dan konflik di dalamnya. Adanya konflik, seperti tentangan keluarga, konflik dengan teman, perselingkuhan hingga perebutan tahta membuat film tersebut semakin menarik ditonton. Di situlah bagian yang paling seru.

Ditambah dengan setting tempat yang bagus dan alur cerita yang tidak membosankan menjadikan film Korea seperti magnet bagi penonton. Belum lagi, para pemain yang memanjakan mata. Para pemain yang memiliki tubuh ideal, berpenampilan sexy, berkulit putih, dan mulus menjadi dambaan setiap orang, terutama para remaja Indonesia.  Para penonton yang melihat akan terpesona dengan hal tersebut.

Selain itu, ada bagian yang tak kalah penting. Adanya unsur pendukung seperti musik menjadi bagian penting dalam film Korea. Nampaknya, para cineas Korea tahu benar apa yang diinginkan para penikmat film. Musik yang menjadi backsound dan lagu sountrack akan menambah menarik sebuah film. Lagu-lagu yang digunakan biasanya berirama pelan. Begitu menyentuh dan terasa elegan bagi para penikmatnya. Mungkin karena itulah, bukan hanya filmnya, musik korea juga diminati.

Terlepas dari semua itu, bagaimana dengan film drama Indonesia? Sebenarnya, film drama Indonesia juga tidak jauh berbeda. Mengenai tempat yang bagus, Indonesia juga tidak kalah dengan Korea. Indonesia memiliki banyak tempat yang indah. Alam Indonesia lengkap. Terdapat gunung, laut, danau, dan sebagainya.

Para pemain yang cantik dan keren pun juga tidak kalah dengan Korea. Para pemain film Indonesia sekarang ini lebih bervariasi. Muncul pemain baru, baik lokal maupun yang blasteran. Mereka memiliki tubuh ideal lengkap dengan aksesorisnya.

Sama halnya dengan para aktor dan aktris film, musik Indonesia juga tak kalah dengan Korea. Banyak sekali pemain musik dan penyanyi Indonesia yang sudah booming dan mulai menempuh jalur internasional. Sebut saja Agnes Mo dan Anggun C. Sasmi yang sudah lebih dulu terkenal dalam skala internasional.

Namun, satu hal yang harus diamati dalam dunia perfilman Indonesia. Apa itu? Alur cerita yang rumit dan durasi film yang terlalu panjang. Itulah yang harus diamati kembali. Meskipun film Indonesia bagus tetapi jangan lupa untuk memperhatikan selera pasar. Durasi film yang panjang akan membuat penontonnya bosan karena film kehilangan ide utama film. Pesan yang disampaikan pun akan samar-samar dan tidak jelas. Lebih baik, ide baru dituangkan dalam judul film baru sehingga para penikmat nyaman menonton dan tidak disuguhi hal yang sama.

Biasakan Anak Membaca, “Kenapa Tidak?”

Kebiasaan membaca adalah kebiasaan yang sangat baik. Para orang tua bisa membiasakan anak-anaknya untuk melakukan hal tersebut. Namun, jangan merasa heran bila kadang anak-anak kita merasa jenuh atau malas melakukannya. Hal itu terjadi karena suatu alasan klasik. Sebagian besar anak tidak menginginkan membaca karena pengaruh lingkungan dan kurang adanya fasilitas yang memadai.

Bunda dan ayah tentu sangat paham. Anak-anak memiliki mood yang relatif tak stabil, terutama yang sudah remaja. Mereka sering merasa bosan atau bahkan lebih suka dengan gadget. Namun, tak perlu khawatir. Kita bisa menyiasati hal tersebut dan kembali membiasakan anak untuk tetap membaca. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan para orang tua maupun guru untuk membiasakan anak gemar membaca.

1. Jadilah duta baca bagi anak

Anak merupakan peniru ulung. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya adalah buah dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Hal yang dilakukan anak-anak tidak terlepas dari kebiasaan yang terjadi di sekeliling mereka. Hal tersebut bisa dari orang tua, teman, saudara, atau kebiasaan orang lain yang dilihat. Anak-anak akan lebih mudah mengingat apa yang mereka lakukan sendiri. Karena itu sebagai lingkungan pertama, peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting. Jadilah duta baca bagi anak-anak.

2. Bangun kebiasaan membaca sejak dini

Jika sudah membiasakan anak membaca sejak dini, anak-anak akan terbiasa membaca. Umumnya, hal ini dilakukan dengan diselingi dongeng atau cerita yang dibacakan ke anak. Mendongeng ternyata merupakan cara ampuh untuk membiasakan anak gemar membaca. Kegiatan ini baiknya dilakukan sebelum anak tidur. Anak-anak akan merasa familiar dan terbiasa jika hal ini dibiasakan sejak kecil. Hal tersebut harus dilakukan secara terus-menerus sehingga tidak putus.

3. Berikan buku-buku yang menarik dan disukai anak

Untuk memberikan buku kepada anak, seseorang khususnya para orang tua atau guru harus memiliki strategi. Ada cara mudah untuk melakukannya. Caranya, taruhlah buku di tempat strategis. Tempat tersebut bisa di kamar, ruang bermain atau di ruang tengah. Intinya tempat yang sering didatangi anak dan mudah terlihat olehnya. Rasa ingin tau anak akan muncul.

Tentang yang satu ini, saya sendiri pernah mencobanya dan berhasil. Nampaknya anak-anak memiliki rasa ingin tau yang besar ketika melihat sesuatu yang baru dan menarik. Hal menarik tersebut bisa dari gambar, warna favorit, atau hal baru yang ingin mereka ketahui dan butuhkan. Hal tersebut berhubungan dengan tujuan dan cita-cita mereka.

4. Beri motivasi dan kisah inspiratif

Seperti yang telah disinggung jika mendongeng atau bercerita itu merupakan cara ampuh untuk membuat anak mau membaca. Kita bisa ceritakan kisah inspiratif yang menggunggah jiwanya untuk mau membaca. Lebih bagus lagi bila kita berikan motivasi dan semangat bahwa mereka akan membutuhkan banyak bekal supaya bisa sukses. Bekal tersebut bisa diwujudkan dengan membaca.

5. Ceritakan hal yang menarik dan bangkitkan rasa ingin tahu anak

Dongeng menjadi andalan para orang tua untuk dapat membiasakan hal baik. dalam dongeng berisi nilai-nilai. Dongeng dapat membantu terbentuknya karakter anak, termasuk kebiasaan membaca.

Memilih cerita yang menarik akan membuat anak tertarik untuk membaca. Jika anak sudah mulai tertarik berarti mudah untuk membuat mereka gemar membaca. Perlahan-lahan rasa ingin tahu anak muncul.

Kita bisa bacakan dongeng atau cerita itu ketika anak hendak tidur. Hal yang diingat anak adalah sesuatu di awal dan di akhir. Karena itu, waktu yang pas untuk mendongeng adalah menjelang tidur. Sayangnya, kebiasaan ini sudah mulai ditinggalkan. Padahal hal tersebut termasuk cara yang efektif untuk membiasakan anak membaca.

6. Beritahu manfaat dan pentingnya membaca

Sering kita menyuruh anak tanpa memberitahu alasannya. Adakah manfaatnya atau apa yang kita perintahkan itu penting untuk dilakukan. Bukankah seseorang melakukan sesuatu karena ada tujuan dan manfaatnya. Hal itu lebih bermakna dan dihargai anak.

Anak-anak akan sangat senang bila mereka diberikan tantangan. Tantang mereka untuk melakukannya. Bantu mereka untuk membuat tujuan hidup. Mereka akan berusaha melakukan hal tersebut dengan sungguh-sungguh di luar dugaan. Kadang kita tidak menyadari betapa besar potensi dan bakat mereka. Kebiasaan membaca akan menunjang hal tersebut. Semoga bermanfaat… ^_^